Pekerja Asal Medan Telantar dan Upah Belum Dibayar
BENER MERIAH ~ BelaNegaraNews| Aroma tidak sedap menyelimuti pelaksanaan proyek Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Desa Datu Beru, Kecamatan Timang Gajah, Kabupaten Bener Meriah, Aceh. Proyek yang digadang-gadang berjalan lancar ini justru menyisakan jeritan pilu dari belasan pekerja bangunan asal Kota Medan, Sumatra Utara, tanpa kejelasan pembayaran upah pekerjaan yang sudah di sepakati.
Peristiwa ini bermula pada Senin, 13 April 2026. Perwakilan pekerja bertemu dengan seorang oknum Aparatur Sipil Negara (ASN) Departemen Agama (Depag) Sumatra Utara bernama Hendra Gunawan alias HG alias babe beserta istrinya, Dian Anisa Utama alias DAU di sebuah kafe di kawasan Jalan Ring road/Gagak Hitam, Medan. Dalam pertemuan tersebut, HG yang juga katanya bertindak sebagai kontraktor menawarkan kerja sama untuk mengerjakan pembangunan KDMP di Aceh.
Setelah mencapai kesepakatan, sebanyak 11 pekerja langsung diberangkatkan dari Medan menuju Takengon dengan bus PMTOH pada Selasa malam, 14 April 2026. Rombongan tiba di Lampahan, Simpang Kompi, Bener Meriah, keesokan harinya. Berdasarkan instruksi HG, para pekerja diminta berkoordinasi dengan Agus Suhendri alias Hendrik, oknum TNI berpangkat Sersan dua yang tercatat dari kesatuan Arhanud Lhokseumawe dan berdomisili di desa datu Beru kecamatan timang gajah kabupaten bener meriah, Hendrik lah yang disebut-sebut sebagai orang kepercayaan di lapangan oleh babe/HG untuk mengawasi titik pembangunan di Desa Datu Beru.
Pasokan Material Macet Total
Kecurigaan mulai muncul saat memasuki minggu ketiga bekerja. Proses pemasangan boplank dan pembagian ruangan sempat berjalan, namun setelah itu pasokan material seperti semen dan besi mendadak macet total. Ketika para pekerja meminta kejelasan, pihak pengawas lapangan berdalih bahwa dana dari pusat belum diturunkan oleh pihak terkait.
Kami mulai panik karena pekerjaan sudah masuk tahap pemasangan turap, tapi bahan-bahan tidak kunjung datang. Janjinya material dikirim dari Medan, tapi ditunggu-tunggu tidak ada kejelasan,ungkap Susanto sebagai kepala tukang dengan nada kecewa.
Di tengah situasi tersebut, HG alias babe tiba-tiba menghilang tanpa kabar dan tidak bisa dihubungi. Menurut informasi Tanggung jawab operasional proyek kemudian dialihkan kepada Sersan dua Agus Suhendri alias Hendrik, Sayangnya, pergantian manajemen ini tidak menyelesaikan masalah. Pasokan material tetap terkendala. Mirisnya,besi dan kayu yang dikirim untuk kebutuhan penahan justru menggunakan bahan bekas pakai yang sudah lapuk dan tidak layak pakai.
Upah Puluhan Kubik Turap Belum Dibayar
Hingga saat ini, para pekerja telah menyelesaikan pemasangan turap sepanjang 90 meter dengan volume mencapai 40 kubik sama sekali belum dibayar.
Kondisi memprihatinkan ini sempat memicu simpati dari seorang personil TNI berpangkat sersan mayor Zarkawi bertugas di kodim 0119 Bener Meriah yang juga berdomisili tidak jauh dari pembangunan gedung koperasi Desa Merah Putih. Saat meninjau lokasi, Zarkawi bahkan sempat menawarkan bantuan untuk menjembatani komunikasi agar ongkos pemasangan turap segera dilunasi.
Akibat ketidakpastian yang berlarut-larut,rombongan pekerja memilih untuk pulang kembali ke Medan menggunakan sisa tabungan yang ada, dan berharap kepada fihak – fihak terkait agar dapat membantu.










