Example 728x250
Cinta Tanah AirOpiniPendidikan

Trauma Healing Anak Tamiang: Catatan Relawan Pelindo Merawat Senyum di Balik Reruntuhan Sekumur

×

Trauma Healing Anak Tamiang: Catatan Relawan Pelindo Merawat Senyum di Balik Reruntuhan Sekumur

Sebarkan artikel ini
Rahmadani Hidayatin sebagai Relawan Pelindo memberikan trauma healing untuk anak korban banjir Desa Sekumur Aceh Tamiang
Rahmadani Hidayatin, S.Psi, M.Kes sebagai Relawan Pelindo memberikan trauma healing untuk anak korban banjir Desa Sekumur Aceh Tamiang

(ACEH TAMIANG, Patriotbelanegara.com) – Hampir tiga bulan telah berlalu sejak banjir bandang menghantam wilayah kita pada akhir November tahun lalu. Oleh karena itu, tepat pada tanggal 14 Februari 2026, saya berdiri mematung di atas tanah berlumpur Desa Sekumur, Kecamatan Tamiang Hulu. Kehadiran kami di sini berfokus pada satu langkah konkret, yakni menginisiasi Trauma Healing Anak Tamiang yang terdampak bencana. Bahkan, ketika sebagian besar masyarakat kota sibuk merayakan hari kasih sayang, kami memilih hadir langsung di lokasi pengungsian ini.

Pemandangan di sini memang jauh dari kata romantis. Tenda-tenda pengungsian tampak memudar, sementara tumpukan kayu sisa luapan air masih berserakan. Meskipun air sungai sudah lama surut, luka batin para penyintas tentu saja masih membekas kuat.

Panggilan Nurani Relawan Bakti BUMN

Langkah saya menuju desa ini terwujud sebagai bagian dari panggilan nurani. Lebih lanjut, saya mewakili insan PT Pelabuhan Indonesia melalui payung besar(https://pelindomultiterminal.co.id/news/pelindo-peduli-hadir-bantu-warga-terdampak-bencana-di-aceh-tamiang). Sebagai Direktur PT HRTE Indonesia yang sehari-hari bergelut di bidang psikologi kesehatan, saya selalu mendapat tamparan realitas saat melihat kondisi lapangan secara langsung.

Selama ini, respons tanggap darurat biasanya hanya berfokus pada logistik fisik seperti mi instan, selimut, dan air bersih. Padahal, faktanya jauh lebih memprihatinkan. Dua bulan pascabencana, warga Desa Sekumur masih terpaksa mengonsumsi air sungai yang keruh. Mereka harus mengendapkan dan memasak air tersebut berulang kali hanya untuk bertahan hidup. Untuk mendalami ulasan mengenai pentingnya rasa kepedulian sosial sebagai wujud nyata patriotisme, Anda dapat membaca berbagai liputan kami di kanal(https://www.patriotbelanegara.com/category/cinta-tanah-air/).

Urgensi Program Trauma Healing Anak Tamiang

Di tengah himpitan hidup yang serba sulit, anak-anak selalu menjadi kelompok rentan yang suaranya paling jarang terdengar. Walaupun mereka mungkin tidak mengeluh soal harga sembako, absennya mereka dari bangku sekolah selama berbulan-bulan jelas memicu masalah baru. Selain itu, rasa takut selalu menyelimuti mereka setiap kali awan mendung datang.

Akibatnya, rentetan kondisi ini menciptakan bom waktu psikologis bagi pertumbuhan mental mereka. Di titik kritis inilah, pelaksanaan Trauma Healing Anak Tamiang beserta dukungan psikososial secara menyeluruh menemukan letak urgensi utamanya. Langkah pemulihan psikososial ini sejalan dengan inisiatif strategis dari(https://kemkes.go.id/id/trauma-healing-relawan-tck-kemenkes-bantu-pulihkan-psikososial-anak-korban-bencana-di-aceh-tamiang) yang juga terus mengerahkan tenaga cadangan kesehatan untuk memulihkan trauma anak-anak di Aceh Tamiang.

Menghidupkan Kembali Dunia Bermain

Pada pagi hari, kami berinisiatif menyulap sebuah area terbuka menjadi ruang kelas darurat. Selanjutnya, saya duduk melingkar bersama puluhan anak Desa Sekumur. Kami sengaja menerapkan pendekatan yang sangat santai dan menghindari metode terapi yang kaku. Sebaliknya, kami memulai sesi dengan aktivitas sederhana yang menjadi hak dasar mereka, yakni bermain, menggambar, dan bercerita.

Menariknya, anak-anak mengekspresikan ketakutan terdalam mereka melalui krayon dan kertas gambar. Beberapa anak menggambar rumah dengan atap miring, sedangkan anak-anak lain mewarnai sungai dengan coretan cokelat pekat. Melalui medium inilah, mereka perlahan mengurai beban emosional yang selama ini mengendap.

Saya juga mengingat dengan sangat jelas raut wajah seorang balita yang tertawa lepas saat kami memandu permainan kelompok. Tawa itu dengan cepat menular dan sukses memecah keheningan desa yang sempat terasa begitu muram. Bagi anak-anak ini, kemampuan untuk kembali memegang krayon sungguh merupakan sebuah kemewahan yang tak ternilai harganya.

Estafet Kemanusiaan untuk Masa Depan

Langkah program relawan BUMN ini membuktikan bahwa korporasi negara turut bertindak sebagai denyut nadi kemanusiaan. Namun, kerja keras kita belum sepenuhnya selesai. Pasalnya, pemulihan psikologis bukanlah pil ajaib yang langsung menyembuhkan luka dalam sekejap mata. Sebaliknya, proses ini adalah sebuah kerja estafet.

Hari ini, kami para relawan hanya membukakan pintu kebahagiaan kecil bagi mereka. Selanjutnya, pemerintah daerah dan elemen masyarakat sipil harus memastikan anak-anak Desa Sekumur bisa segera kembali bersekolah. Pada akhirnya, saat meninggalkan desa pada sore harinya, saya membawa pulang satu pelajaran berharga. Kasih sayang paling nyata tidak sekadar tentang memberi barang material, melainkan seberapa besar kita bersedia hadir, mendengarkan, dan merawat harapan para penyintas bencana.

(Pantau terus dinamika dan kisah inspiratif lainnya hanya di(https://www.patriotbelanegara.com/)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *