Jakarta – BelaNegaraNews| Langit biru di atas Batujajar menjadi saksi bisu lahirnya sebuah sejarah baru bagi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Di balik parasnya yang anggun, Serda (K) Afriya Lubis menyimpan nyali baja yang tak tergoyahkan. Prajurit Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad) asal Medan ini resmi mengukir prestasi sebagai wanita pertama yang menembus dominasi udara di lingkungan Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad).
Mendobrak Stigma di Satuan Elite
Selama puluhan tahun, kemampuan terjun bebas atau free fall di lingkungan TNI AD sangat identik dengan satuan elite Kopassus. Namun, Serda Afriya datang untuk mengubah narasi tersebut. Di usia yang baru menginjak 22 tahun, prajurit kelahiran Pardamean Baru ini membuktikan bahwa profesionalisme militer dan keberanian tidak dibatasi oleh gender.

Selama ini Kowad penerjun memang identik dengan Kopassus, dan Kostrad belum memilikinya. Kami ingin membuktikan bahwa Kowad juga mampu, tegas Afriya dengan nada penuh keyakinan.
Latihan Keras di Pusdikpassus
Perjalanan Afriya tidaklah instan. Ia harus melewati Pendidikan Para Dasar selama satu bulan penuh di Pusat Pendidikan Pasukan Khusus (Pusdikpassus), Batujajar, Bandung. Di sana, fisik dan mentalnya ditempa melalui latihan drill kering yang sangat disiplin sebelum akhirnya diizinkan melompat dari pesawat.
Momen dramatis terjadi pada terjun perdana dari ketinggian 400 kaki. Meski rasa takut sempat menghantui, komitmennya terhadap tugas jauh lebih besar. Setelah sukses dengan 7 kali penerjunan statik, ia justru ketagihan dan melanjutkan ke jenjang yang lebih ekstrem: Terjun Free Fall Militer.
Menaklukkan Langit Malam dari 9.000 Kaki
Pada Februari 2017, Afriya meningkatkan level kemampuannya. Ia menempuh pendidikan terjun bebas intensif dan tercatat telah melakukan 33 kali penerjunan dari helikopter Mi-17 pada ketinggian 8.000 hingga 9.000 kaki. Tidak hanya itu, ia juga berhasil menaklukkan tantangan terjun malam, sebuah manuver yang membutuhkan ketenangan tingkat tinggi dan navigasi yang presisi di tengah kegelapan.
Kini, dengan koleksi lebih dari 50 kali penerjunan, Serda Afriya Lubis bukan sekadar prajurit biasa. Ia adalah pionir sekaligus simbol regenerasi. Bersama tiga rekan Kowad lainnya, ia menjadi angkatan pertama penerjun wanita di unit Makostrad, Divif 1, dan Divif 2 Kostrad.
Langkah Serda Afriya adalah pesan kuat bagi seluruh perempuan Indonesia: bahwa langit bukanlah batas, melainkan ruang luas untuk membuktikan pengabdian terbaik bagi bangsa dan negara.
(P 261.75)












