Penulis : Alpha Axioma | Editor : Sirkuit01
Disunting Oleh: Tim Redaksi Sosial Media
(Catatan Redaksi: Tulisan ini murni merupakan fiksi satire berbentuk dongeng. Kesamaan nama tokoh, tempat, angka, atau peristiwa hanyalah sebuah kebetulan belaka dan murni berfungsi sebagai kritik sosial).

MEDAN – Patriotbelanegara.com| Saat ini, HIKAYAT Catur wangsa kembali mengusik ketenangan malam warga. Di sebuah negeri antah berantah bernama Catur wangsa, nalar bersemayam di atas Papan Marmer. Negeri ini memiliki dua bidak dengan takdir yang sangat berbeda. Namun, sang penguasa negeri tiba-tiba buta huruf membaca peta prestasi. Akibatnya, tatanan luhur hancur berantakan hanya dalam waktu semalam.
Ksatria Lazuardi dan Benteng Besi dalam HIKAYAT CATUR WANGSA
Di petak Tanjung Harapan, berdirilah tegak sesosok Ksatria Kuda. Ia terbuat murni dari pahatan kristal safir yang berkilau. Tentu saja, ia sama sekali bukan ksatria kelas teri biasa. Belum lama ini, ia baru turun dari Puncak Menara Chandradimuka. Tempat itu merupakan kawah asah taktik paling bergengsi se-provinsi kerajaan.
Melalui kecerdasannya merajut manuver pembaruan, ia sukses membuka gerbang PORTAL. Ia bahkan berhasil membawa pulang Simbol Kehormatan Bintang Tiga. Simbol perunggu itu melingkar sangat gagah di dada kristalnya. Prestasinya membuktikan bahwa ia adalah aset intelektual paling berharga. Publik meyakini sang ksatria siap menduduki takhta yang lebih tinggi.
Sebaliknya, nun jauh di sudut gemerlap Negeri Perintis, hiduplah bidak lain. Orang-orang memanggilnya dengan julukan Si Benteng Besi. Tubuh sang benteng sudah penuh dengan noda korosi tebal. Kisah kelamnya berhembus bak angin aib ke seluruh penjuru negeri. Ia kedapatan beradu otot dengan para pion kecil warganya sendiri.
Faktanya, dalam pertarungan konyol itu, sang Benteng langsung kehilangan keseimbangan. Ia tergelincir dan jatuh nyungsep ke dalam selokan yang kotor. Sisa harga dirinya ikut lenyap terbawa arus air comberan.
Malam Kudeta Nalar dan Kutukan Angka Keramat
Ketika awan hitam menutupi bulan, Tangan Raksasa Tak Terlihat turun perlahan. Sang penguasa bayangan ini merasa harus segera merotasi formasi pasukan. Tangan raksasa itu mengangkat sang Benteng yang berkarat dan bau comberan. Kemudian, ia meletakkan bidak kotor itu secara paksa. Ia menaruhnya tepat di atas petak marmer suci milik sang Ksatria.
Lalu, ke mana sang peraih Simbol Kehormatan itu pergi? “apakah Simbol Kehormatan Bintang Tiga menaikkan Tahtanya?” Tangan Raksasa itu dengan tega menghempaskan sang Ksatria. Ia membuang inovator cerdas itu ke dalam parit berlumpur. Parit itu adalah sarang yang baru saja Si Benteng Besi tinggalkan. Penguasa menumbalkan sang Ksatria semata-mata untuk memunguti tumpukan sampah. Ia harus membersihkan sisa-sisa konflik dari sang gladiator amatir.
Untuk mengunci kelainan nalar ini, Tangan Raksasa mengeluarkan gulungan perkamen. Kop perkamen putih bersih itu memuat sebuah angka sangat keramat. Angka “DEKRIT 213” terpampang jelas menantang kewarasan. Angka ini menandakan jumlah nyawa dan nasib bidak-bidak kecil. Masa depan mereka teracak-acak malam itu tanpa indikator yang logis.
Tentu saja, realitas ironis semacam ini selalu mengingatkan kita pada fenomena nyata. Silakan Anda merenungkan fenomena ini.
Klimaks Perlawanan Semesta Catur wangsa
Tangan angkuh itu lalu mengambil Stempel Kayu Legitimasi. Ia berniat mengecap dan meresmikan Si Benteng Karat di posisi mulianya. Namun, alam semesta Catur wangsa ternyata sangat muak dengan konspirasi kotor ini. Di titik klimaks inilah, praktik ketidakadilan mendapat perlawanan telak. Langkah irasional ini sangat bertolak belakang dengan nilai objektivitas tata kelola kota.
Saat stempel menyentuh perkamen Dekrit 213, keajaiban aneh pun terjadi. Vuuushhh! Bukannya tinta emas yang menempel, melainkan percikan api menyambar ganas. Suhu ketidakadilan yang terlalu pekat membuat stempel itu membakar dirinya sendiri. Api menyala sunyi sambil melahap deretan nama di atas kertas.
Bara api bersinar paling terang tepat di atas angka 213. Akhirnya, seluruh gulungan sejarah malam itu berubah menjadi abu kelabu. Abu itu jatuh menutupi Si Benteng Karat dan menimbun papan marmer. Ia resmi menjadi nisan bagi nalar birokrasi yang telah mati membusuk.
(Gulungan perkamen ini berakhir di sini, namun nalar Catur wangsa masih terus teruji…)
Kesimpulannya, merawat nalar kritis adalah inti dari gerakan mencintai bangsa. Mari kita terus mengawal setiap langkah para pemegang stempel kekuasaan.
Pada akhirnya, nantikan kisah “Mahapati Utara Catur wangsa dan Misteri Hibernasi Kuil Ilmu Barunya” pada kesempatan mendatang. Pastikan Anda tetap memantau pembaruan dongeng kebelanegaraan lainnya hanya di saluran kesayangan kita, Bela Negara News!








